Sejarah Susu di Indonesia

Pada Tahun 1906 atas intruksi Pemerintah Hindia Belanda, didatangkan sapi pedaging ke wilayah Nusa Tenggara Timur dan menetapkan daerah Sumba sebagai  pusat pengembangbiakan ternak sapi daging dari jenis O ngole (India). bersamaa itu pula sapi perah dari belanda didatangkan ke daerah Bandung yang udaranya sejuk sehingga cocok buat lahan peternakan, maka sejak itu  wilayah Bandung dikenal sebagai pengahasil susu berkualitas tinggi di Hindia Belanda.

Pada awal abad ke-20 pelayanan restoran kereta api jalur Cirebon-Bandung-Bogor tujuan Batavia mulai diperkenalkan hidangan susu sapi segar kepada para penumpangnya. Sebagai pelepas dahaga dan obat lapar selama dalam perjalanan.

Bahkan pada tahun 1786 semua pelancong rombongan berkuda dari Batavia ke Negorij Bandoeng disuguhi segarnya susu Bandung tatkala rombongan singgah di Cianjur.

Menurut sejarah, pada tahun 1938 sudah terdapat 22 usaha pemerahan susu di wilayah Bandung dengan kapasitas produksi 13.000 liter susu per hari. Hasil produksi susu tersebut semuanya ditampung oleh Bandoengsche Melk Centrale kemudian diolah menjadi susu pasteurisasi selanjutnya disalurkan kepada para langganan baik di dalam maupun luar kota Bandung.

Bahkan dengan sombongnya Direktur B.M.C menulis: Vergeet U niet, dat er in geheel Nederlandsch Oost-Indi slechts een Melk centrale is, en dat is de Bandoengsche Melkcentrale (Anda jangan lupa, bahwa di seantero Nusantara ini cuma ada satu Pusat Pengolahan Susu dan itu adalah Bandoengsche Melk Centrale)

Dari sejarah persusuan di Indonesia, di daerah Bandung ada 3 perusahaan pemerahan susu (Boerderij) yang terkemuka. Mereka inilah yang merupakan cikal bakal usaha peternakan sapi perah dari jenis unggul yang didatangkan dari Friesland, salah satu propinsi di Belanda.

Yang Pertama perusahaan Generaal de Wet Hoeve milik Tuan Hirschland dan Van Zijll di Cisarua, kabupaten Bandung. Mereka  mendatangkan sapi perah Friesland ke Nusantara pada awal abad ke-20.

Kemudian Lembangsche Melkerij Ursone, sebuah perusahaan pemerahan susu di Lembang yang didirikan oleh tiga diantara empat bersaudara Ursone pada tahun 1895. Keluarga Ursone yang berkebangsaan Italia diawali dengan 30 ekor sapi pada tahun 1940 telah berkembang menjadi 250 ekor sapi dengan produksi ribuan liter susu perharinya.

Dan yang ke tiga di Pangalengan, sekitar danau Cileunca, ratusan ekor sapi perah diternakkan orang Eropa di sana. Begitu banyaknya sapi perah bibit luar negeri di lembah danau Cileunca, majalah Mooi Bandoeng sering menyebut Pangalengan sebagai Friesland in Indi (Friesland di Hindia).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *